ムートン ブーツ

Yayasan Mitra Netra

Terwujudnya Kesamaan Kesempatan Melalui Kesetaraan Perlakuan di bidang Pendidikan dan Tenaga kerja Harapan Tunanetra Indonesia

Halo Mitra

Belajar Braille Yuk!

Senin, 11 April 2011

Kantor Mitra Netra yang biasanya sepi di pagi hari, tiba-tiba dipenuhi celoteh anak-anak. 26 siswa kelas satu SD PSKD Menteng bersama dua orang guru mereka datang berkunjung. Uniknya, dari 26 anak yang duduk di kelas satu, hanya ada enam anak laki-laki. Selebihnya perempuan. Seperti kunjungan sekolah-sekolah sebelumnya, kegiatan kali ini pun dilakukan di saung yang terletak di alaman belakang kantor Mitra Netra.

Menerima Kunjungan siswa sekolah dasar di Mitra Netra merupakan salah satu agenda rutin. Dari sisi kurikulum sekolah, pada umumnya kunjungan ini merupakan bagian dari pelajaran komunikasi. Siswa sekolah dasar diajak mempelajari bahwa dalam komunikasi khususnya bahasa tulisan, terdapat sekelompok orang yang melakukannya dengan cara yang sedikit berbeda. Mereka adalah para tunanetra, yang membaca dan menulis dengan “huruf Braille”, huruf kombinasi enam titik.

Kunjungan diawali dengan perkenalan mereka dengan Kenichi, seorang siswa tunanetra kelas dua SLB Pembina Tingkat Nasional. Hari itu Ken, begitu ia biasa disapa, khusus ijin dari sekolahnya untuk menyambut teman-teman dari SD PSKD Menteng. Pertanyaan pun bermunculan dari suara-suara mungil mereka. “Gimana kalau pergi ke skolah?” “Jam berapa pulangnya?” “Di sekolah belajar apa?” Dan sebagainya.

Setelah puas bertanya, tibalah sesi “belajar Braille”. Alat tulis yaitu slade dan stylus – beserta kertas dibagikan. Karena jumlah alat tulis hanya setengah dari jumlah siswa yang datang, guru meminta mereka “berbagi”. Satu alat tulis untuk dua orang siswa.

Adi Arianto, tunanetra yang bertugas sebagai konselor di Mitra Netra menjelaskan konsep huruf Braille dengan bahasa sederhana. Murid-murid pun antusias, mendengarkan dan menjawab pertanyaan. “Huruf A titik satu.” “Huruf B, titik satu dan dua.” Huruf C, titik satu dan empat.” Dan seterusnya.

Setelah memahami apa itu huruf Braille, para siswa pun diminta mencoba menuliskannya. Suasana sengaja diciptakan sesantai mungkin, sambil bermain-main. Ada yang menulis sambil menelungkupkan badan di lantai saung. Ada yang sambil duduk saja.

Setelah mencoba menuliskan beberapa alfabet, anak-anak kemudian meminta beberapa tunanetra yang pagi itu bertugas sebagai tutor mereka untuk menuliskan nama masing-masing dalam huruf Braille. Setelah nama-nama itu dituliskan, anak-anak itu pun berusaha merabanya dengan jari-jari mungil mereka.

Setelah selesai mengenal huruf Braille, anak-anak pun dipertontonkan bagaimana Ken, teman tunanetra mereka bermain “rubiqs”. Sebelumnya, anak-anak diminta mengacak-acak kotak-kotak dalam kubus yang telah dibubuhi tanda-tanda Braille itu. Ken hanya membutuhkan waktu tiga menit untuk merapikan dan menyelesaikannya. “wah! Cepet banget!”, komentar mereka.

Sesi memperkenalkan huruf Braille itu memang hanya berlangsung kurang lebih 30 menit. Dan, pertemuan anak-anak kelas satu SD yang tidak tunanetra itu dengan teman mereka yang tunanetra pun juga tak berlangsung lama. Namun, pengalaman itu sangat berharga bagi anak-anak seperti mereka. Belajar mengenali dan menghargai perbedaan.

Aria Indrawati.

Kembali

ムートン ブーツ

アグ ブーツ