Yayasan Mitra Netra dan Akses TIK untuk Tunanetra

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dewasa ini telah terbukti membuat kehidupan manusia lebih mudah. Dengan bantuan komputer, pekerjaan sehari-hari yang bersifat administratif dapat dikerjakan dengan lebih cepat dan akurat. Demikian pula dengan komunikasi dan perolehan informasi dewasa ini semakin dipercepat kemungkinannya dengan menggunakan media Internet.

Lalu, bagaimana dengan tunanetra yang memiliki hambatan penglihatan? Bisakah mereka memanfaatkan teknologi yang canggih itu? Yayasan Mitra Netra hadir memberikan jawabannya untuk tunanetra di Indonesia.

Berdiri sejak 14 Mei 1991, atas prakarsa beberapa orang tunanetra dan sahabat-sahabat yang bukan tunanetra, Yayasan Mitra Netra hadir memberi solusi alternatif untuk mendorong terwujudnya kesamaan kesempatan melalui kesetaraan perlakuan bagi tunanetra. Apa yang dicita-citakan oleh para pendiri Yayasan ini memang sangatlah luhur, mengingat masih adanya diskriminasi terhadap hak para tunanetra di berbagai aspek kehidupan, termasuk di bidang pendidikan dan ketenagakerjaan.

Di saat banyak orang berpikir bahwa tunanetra adalah kelompok yang jauh dari jangkauan teknologi, pada 1992, Yayasan Mitra Netra mulai memperkenalkan teknologi komputer kepada tunanetra di Indonesia.

Dengan bantuan perangkat lunak pembaca layar atau screen reader, tunanetra yang memiliki hambatan penglihatan, juga dapat mengakses teknologi informasi. Screen reader ini mampu membacakan semua tampilan pada monitor yang berbentuk teks. Karena fungsi screen reader ini adalah membacakan, yang membuat komputer menjadi bersuara atau berbicara, komputer yang dilengkapi dengan screen reader sering disebut dengan komputer bicara atau talking computer.

Sejak 1992 itu pula, Yayasan Mitra Netra menyelenggarakan kursus komputer bicara untuk para tunanetra. Peserta kursus ini sebagian besar adalah siswa dan mahasiswa tunanetra yang sedang menempuh pendidikan secara inklusif di sekolah umum serta perguruan tinggi. Dan, pada 1999, Yayasan Mitra Netra mulai menyebarluaskan program tersebut dengan merintis penyelenggaraan kursus serupa di Yayasan Mitra Netra Perwakilan Bandung.

Untuk memperluas akses tunanetra di seluruh Indonesia terhadap teknologi komputer dan Internet, melalui kerja sama dengan Microsoft Indonesia, pada tahun 2003, Yayasan Mitra Netra mendirikan Community Training and Learning Center (CTLC) di beberapa organisasi ketunanetraan dan Sekolah Luar Biasa (SLB) untuk tunanetra di Jakarta, Bandung, Medan, dan Makasar. Melalui CTLC yang terdiri dari lima lembaga ini (Yayasan Mitra Netra Jakarta, Kartika Destarata Jakarta, Yayasan Mitra Netra Bandung, YAPTI Makasar dan Yapentra Medan), Yayasan Mitra Netra menyelenggarakan program pelatihan komputer bicara bagi generasi muda tunanetra. Lebih dari 300 tunanetra telah mampu memanfaatkan komputer melalui program ini.

Mengingat mahalnya harga screen reader yang mengakibatkan sangat sedikitnya jumlah tunanetra yang dapat memiliki komputer bicara secara pribadi di satu sisi, dan menyadari kebutuhan tunanetra untuk memanfaatkan teknologi komputer guna mendukung kegiatan sehari-hari di bidang pendidikan dan pekerjaan, sejak 2003, Yayasan Mitra Netra mulai merintis penyelenggaraan pusat layanan Internet (Internet center) di Jakarta. Di Internet center ini, Yayasan Mitra Netra menyediakan beberapa buah komputer bicara berikut akses Internet, yang dapat digunakan secara cuma-cuma oleh para tunanetra. Sejak akhir 2004, melalui kemenangan pada kompetisi Samsung DigitAll Hope (sebuah kompetisi berskala regional Asia-Australia), Yayasan Mitra Netra mulai menyebarluaskan model layanan Internet center di Bandung, Yogyakarta dan Makasar.

Melalui program inovatifnya, Yayasan Mitra Netra juga berhasil menjalin kerja sama dengan Citibank dalam menciptakan Kamus Elektronik Inggris-Indonesia Indonesia-Inggris untuk tunanetra. Kamus yang diberi nama Mitranetra Electronict Dictionary (Meldict) ini dapat dimanfaatkan dengan sangat mudah oleh tunanetra dengan menggunakan komputer bicara. Untuk mengoptimalkan pemanfaatan Meldict di kalangan tunanetra, di samping menghibahkannya kepada sekitar 200 organisasi ketunanetraan dan sekolah Luar Biasa di seluruh Indonesia, Yayasan Mitra Netra juga membentuk kelompok kerja yang terdiri dari sembilan lembaga yang dipilih. Kepada para wakil kesembilan lembaga ini, Yayasan Mitra Netra memberikan pelatihan bagaimana mengoperasikan Meldict. Wakil yang telah terlatih tersebut lalu mengajarkannya kepada tunanetra di lembaga masing-masing dan sekitarnya.

Dalam rangka mempromosikan ide bahwa disain sebuah website seharusnya dibuat aksesibel bagi tunanetra (sesuai standar yang ditetapkan oleh www consortium), pada 2005, Yayasan Mitra Netra juga telah meluncurkan disain website yang aksesibel bagi tunanetra www.mitranetra.or.id. Melalui peluncuran model website yang aksesibel ini, Yayasan Mitra Netra bermaksud mengajak para pihak terkait agar dalam mengembangkan disain website mereka juga mempertimbangkan faktor kemudahan bagi tunanetra, yang dalam mengoperasikan komputer harus menggunakan screen reader.

Apa yang telah dirintis selama bertahun-tahun ini ternyata telah membuahkan hasil. Banyak tunanetra yang telah merasakan manfaat dari kemampuannya mengoperasikan komputer bicara. Mereka dapat membuat tulisan secara mandiri, mengolah data, dan sesuai perkembangan zaman, mereka pun telah dapat berselancar di dunia maya, juga berkomunikasi menggunakan email. Tidak hanya itu, beberapa di antara mereka juga sudah mulai mendisain blog pribadi (personal blog).

Di samping itu, dengan memiliki ketrampilan dan kemampuan menggunakan komputer, tunanetra kini memiliki peluang yang lebih luas di bidang lapangan kerja. Menjadi jurnalis atau penulis, penerjemah, komposer musik, telemarketer, dan masih banyak lagi bidang pekerjaan yang kini sangat mungkin dilakukan tunanetra, dengan bantuan teknologi komputer.

Muri pun diundang untuk mencatat peristiwa luar biasa ini

Didukung oleh :